Monday, August 20, 2007

Potensi Bisnis Oli Bekas

Tanpa banyak yang menyadari potensi bisnis oli bekas ternyata luar biasa. Bisa dikatakan memang demikian. Sebab, dari tetesan limbah pelumas ratusan ribu mobil dan motor, kapal dan pesawat terbang, serta lainnya yang ada di seluruh Indonesia, jika dikumpulkan jumlahnya sungguh mencengangkan.

Sepuluh tahun lalu, sebelum oli bekas bisa didaur ulang dengan teknologi mutakhir sehingga bisa menghasilkan pelumas berkualita prima yang bisa mengalahkan pelumas murni (virgin crude oil), oli bekas selalu menjadi masalah. Jika tidak dimusnahkan, bisa menimbulkan pencemaran lingkungan. Atau, yang juga tidak kalah menimbulkan dampak buruk, yakni memunculkan tindak kriminal pemalsuan oli yang tak hanya bisa merusak mesin, juga merusak perekonomian. Perdagangan terganggu, dan pajak tak bisa dikutip.

Berbagai inovasi dengan memanfaatkan teknologi tinggi pemurnian oli bekas yang dikembangkan Mohawk (Kanada) dan Evergreen (Amerika Serikat), penanganan limbah pelumas bekas seakan mendapatkan solusi. Setidaknya sejak 1995, dan terutama sejak PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) yang memproduksi pelumas merek Pennnzoil (Amerika) di Indonesia, pada 1996, jutaan liter oli bekas kian mendapatkan nilai ekonomis yang memadai.

Terbukti, kini WGI yang tampil sebagai produsen pelumas swasta terbesar di Indonesia mampu mematok kapasitas produksi 75 juta liter minyak pelumas setahun. Jumlah ini tidak terlalu istimewa jika WGI memproduksi minyak pelumas murni. Tapi justru memurnikan kembali (refinery) pelumas bekas yang bahan bakunya berasal dari para (terutama) pemilik kendaraan bermotor di Indonesia. Dan, satu hal yang terpenting, untuk mendapatkan pelumas bekas sebagai bahan baku produksinya tersebut teryata tidaklah mudah.

Sebab, kendati WGI sangat didukung Perhimpunan Pengumpul, Pengelola, dan Pengguna Minyak Pelumas Bekas (P4MPB) yang beranggotakan lebih dari 5.000 pengepul oli bekas di seluruh Indonesia, nyatanya P4MPB kesulitan untuk memenuhi permintaan WGI untuk memasok 1.000 drum oli bekas sehari. Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan, peluang usaha oli bekas ini terbuka lebar mulai dari (bengkel dan pengumpul) di desa hingga ke kota. Di sisi lain, sejalan dengan rencana pengembangan WGI—terutama untuk memenuhi keperluan ekspor—permintaan terhadap oli bekas ini tentu saja akan ikut meningkat pula.

Besarnya potensi usaha oli bekas inilah yang ingin disampaikan kepad apembaca. Setidaknya, laporan utama yang diperasiapkan Agung Firmansyah, Ali Akipin, Yanti Prasetyo, Zakiya Lifa Sakura, Diana Gafar, Yosal Iriantara dan fotografer Eko Sigit ini bisa dipandang sebagai upaya menambah khasanah pemberdayaan perekonomian masyarakat secara nyata. Lebih dari itu, juga terkandung semangat untuk ikut memerangi pemalsuan oli yang sangat merugikan masyarakat. Dan, satu lagi, ikut menyelamatkan bumi dari tetesan-tetesan pelumas bekas.

No comments: