Monday, August 20, 2007

In here you can know oil scond if procees will oli new and than use your mobile or motorcycle. And you can find oil scond and than you can sell for company that to procees oil scond for make oil new. So you get money and save the earth.

Kebutuhan pelumas bekas di Indonesia cukup fantastik, hingga puluhan juta setahun. Ini jelas sebuah peluang usaha sekaligus pemberdayaan perekonomian masyarakat yang bisa dikembangkan hingga ke desa-desa di seluruh Indonesia.

Derajat oli bekas tampaknya akan terus meningkat. Jika sebelumnya cairan kotor ini hanya diminati para sindikat pemalsu oli dan para pembakar kapur, atau dibuang begitu saja, kini sejak ditemukan teknologi muthakhir pemurnian oli bekas melalui proses lima tahap dari Mohawk-CEP (Kanada), pamor oli bekas sudah masuk ke dalam jajaran industri skala besar.

Tak kurang PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) yang memproduksi pelumas merk Pennzoil dan Evalube di Indonesia, contohnya, menjadikan oli bekas sebagai tumpuan produksinya sebanyak 75 juta liter setahun. Suatu jumlah yang terbilang fantastis. Tapi, itu wajar. Sebab, sejak beroperasi 4 tahun lalu, WGI yang telah memproduksi 45 item pelumas berbagai keperluan seperti otomotif, industri, alat berat dan perkapalan ini, WGI telah berhasil menempatkan dirinya pada peringkat teratas perusahaan pelumas swasta terbesar di Indonesia, bahkan di kawasan Asia Pasifik.

Kiprah WGI sebagai perusahaan pemurnian pelumas yang mutu produknya diakui lembaga internasional seperti American Petroleum Instituea (API) juga Legimas jelas amat bergantung pada besar dan lancarnya pasokan pelumas sebagai salah satu bahan baku produknya. Paling tidak, seperti dikemukakan Vice President/CEO WGI AP Batubara, “Kebutuhan kami sangat besar.”

Sayangnya, kendati secara tetap WGI dipasok Perhimpunan Pengumpul Pengelola dan Pengguna Minyak Pelumas Bekas (P4MPB) yang beranggotakan lebihd ari 5.000 pengumpul oli bekas dari seluruh Indonesia, kebutuhan oli WGI tetap saja belum terpenuhi. Dari 1000 drum yang harus dipasok kepada WGI setiap hari, 2.000 pengumpul yang tersebar di seluruh Jabotabek, menurut bendahara P4MPB Bambang S. Santoso, “Baru memasok 400 drum. Sisanya dari berbagai daerah, namun jumlahnya kecil.

Belum Banyak yang Mengetahui

Besarnya jumlah yang belum bisa terpenuhi itu tentu saja merupakan peluang usaha yang menggembirakan. Hanya saja, belum banyak yang mengetahui potensi bisnis yang kini makin terkuak ke permukaan ini. Para pemilik bengkel kendaraan bermotor yang akrab dengan oli bekas, baik di Jakarta apalagi di berbagai daerah, nyatanya juga banyak yang tidak mengetahui pemanfaatan oli bekas untuk di daur ulang.

A. Pakpahan pengelola Maranatha Oil di bilangan Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, bahkan bukan sekadar tak mengetahui. Lebih dari itu justru merasa tidak enak terhadap masyarakat bila ia menampung oli bekas. Jika dibuang juga takut menimbulkan dengan masyarakat sekelilingnya. Akhirnya, Pakpahan memuituskan untuk menampung. Namun, ketika datang pengumpul yang membeli oli bekas yang ditampungnya, pengumpul tidak banyak menjelaskan untuk apa oli bekas tersebut. “Katanya, sih, untuk dipanaskan, kemudian diendapkan dan disaring,” jelas Parulian, rekan sekerja Pakpahan.

Tak hanya Pakpahan dan Parulian saja yang merasa gelap terhadap pemanfaat oli bekas. Bahkan, informasi seputar daur ulang oli bekas dengan menggunakan teknologi mutakhir pun tak banyak dipahami. Semuanya seakan serba samar-samar. Bahkan, sewaktu berbagai kasus pemalsuan oli ramai diungkap di perbagai media massa, banyak bengkel yang menjual oli bekas lebih memilih berdiam diri. Ada ketakutan mereka dianggap membantu sindikat pembuat oli palsu. Padahal, dengan teknologi mutakhir, mendaur-ulang oli bukanlah persoalan luar biasa. Bukan pula bentuk pemalsuan oli.

Kenyataan inilah yang terkadang membuat pemilik bengkel kendaraan bermotor serba salah. “Dibuang begitu saja, bingung. Ke mana mesti membuang? Ditampung juga tidak ada tempat penampungannya,” ucap Pakpahan berterus terang. Akhirnya, diputuskan untuk dijual dengan harga Rp 60 ribu tiap drum, tanpa banyak bertanya untuk apa oli itu kelak akan digunakan. Yang jelas, kata Pakpahan, “Hasil penjalan oli itu lumayanlah untuk menambah penghasilan.

No comments: